Hi, Aku Astri.
Ini adalah kisahku dalam melupakan sang mantan, cinta pertamaku. Kejadiannya tepat dua tahun yang lalu. Tahun yang begitu panjang bagiku. Namun, itu juga yang membuatku menjadi lebih mengenal diriku sendiri.

Aku merupakan tipe perempuan yang cukup mandiri. Karena dari kecil memang sudah diajarkan untuk mandiri oleh kedua orang tuaku. Bahkan beberapa orang mengagumi kemandirianku sebagai perempuan. Dalam hal karir, dapat dikatakan aku juga memiliki karir yang cukup baik dibandingkan dengan orang-orang yang sepantaran denganku.

Baca juga: Ini Dia Mengapa Cewek Mandiri Jadi Pilihan Yang Tepat Untuk Dijadikan Pacar

Dua tahun yang lalu, aku memberanikan diri membuka hatiku untuk seorang pria bernama Dennis. Dennis adalah salah satu teman semasa kuliahku dulu. Saat itu, kita baru lulus kuliah dan sama-sama sedang berjuang meniti karir di salah satu kota besar di Indonesia.

Sebenarnya kami berteman karena berada dalam komunitas yang sama. Dulu, hampir tidak pernah kami berbicara hanya berduaan saja. Pasti selalu dikerumunin oleh teman-teman yang lain. Namun, setelah kelulusan seperti telah diatur oleh sang Maha Kuasa, kami berdua di terima bekerja di daerah yang sama. Sedangkan teman-teman kami yang lain di terima bekerja di daerah yang jauh dari daerah kami.

Sebagai pendatang, kami tidak memiliki teman yang banyak di daerah itu. Sebatas hanya teman-teman kantor saja. Namun, untuk menghilangkan kepenatan pekerjaan, kami sering bertemu berdua di sela-sela jam istirahat atau bahkan di akhir pekan, layaknya bertemu teman lama. Begitulah kehidupan awal-awal kami terjun ke dunia pekerjaan. Gak ada yang tahu kapan tepatnya rasa cinta itu tumbuh diantara kami berdua.

Baca juga: Tak Sekedar Berteman: Tapi Ada Timbul Rasa Berbeda

Hingga di bulan ke 3 kami bekerja, sehabis masa probation, Dennis mengagetkanku dengan mengutarakan perasaannya padaku. Jujur, saat itu aku masih takut untuk memberikan hatiku padanya. Namun, karena aku sangat merasa nyaman berada didekatnya, dan kita sudah berteman selama hampir 4 tahun, aku pun menerimanya.

Satu tahun pertama bekerja menjadi hal yang begitu berwarna dan menyenangkan bagiku. Aku mendapatkan pekerjaan yang aku sukai dan aku juga memiliki orang yang menyayangiku.

Namun kebahagiaanku ternyata hanya sementara. Memasuki tahun ke dua, Dennis dimutasi oleh perusahaan tempatnya bekerja. Gak hanya itu, mutasinya jauh ke luar pulau dan berlaku tidak tahu sampai kapan. Saat menerima kabar itu, rasanya seperti di sambar petir di siang bolong. Apalagi, kami hanya memiliki waktu 2 bulan sebelum dia benar-benar meninggalkan kota saat ini.

Selama dua bulan sebelum kepergiannya, hubungan kami dipenuhi oleh pertikaian. Aku kerap kali memintanya untuk tetap tinggal di kota yang sama dan mencari pekerjaan yang lain saja. Namun dia menolaknya. Kami juga sering menskenariokan hubungan jarak jauh (ldr) nanti, namun kami sama-sama tidak yakin apakah itu akan bekerja.

Hingga hari H keberangkatannya pun tiba. Aku masih mengantarkannya ke bandara. Seperti sudah direncanakannya, Dennis menyudahi hubungan kami saat di bandara. “Tri, sepertinya hubungan jarak jauh tidak akan berhasil dengan kita. Aku mau kamu tetap bahagia dan menemukan orang yang bisa mendukungmu selama berada di kota ini.”

Mendengar perkataannya, aku langsung menangis dan memeluknya. Tapi ternyata, hanya tangisan yang mampu ku ucapkan. Hingga akhirnya dia pergi meninggalkanku. Saat itu juga, hubungan kami berakhir. Dia yang memulai, dia juga yang mengakhirinya.

Selama satu bulan pertama kepergiannya, aku benar-benar tidak bisa fokus dalam pekerjaanku. Hingga akhirnya aku pun memutuskan untuk melakukan perjalanan seorang diri. Solo travelling ke pulau paling barat Indonesia, pulau Sabang.

Baca juga: 4 Manfaat Travelling Bagi Kesehatanmu

Perjalanan ini sebenarnya cukup menyenangkan. Supir yang disewa selama berada di Pulau Sabang, Pak Ahmad, orangnya cukup ramai dan menyenangkan. Dia berceloteh banyak hal, dari nama pulau yang sebenarnya adalah Pulau Weh namun orang awam lebih mengenalnya sebagai Pulau Sabang hingga kuliner-kuliner yang harus dinikmati selama berada di pulau ini. Aku hanya diam mendengarkan. Bahkan terkadang aku menemukan diriku tidak benar-benar mendengarkannya dan hanyut dalam pemikiranku saja.

Hingga di suatu siang, Pak Ahmad berkata kepada saya, “Dek, adek masih muda, apapun yang sedang adek alami, apalagi kalau itu tentang cinta, beranilah untuk mengikhlaskan. Nanti akan diganti dengan yang lebih baik lagi oleh Sang Pencipta.” Kalimat itu seperti menohok diriku dan menyadarkanku kembali akan tujuanku melakukan solo trip ini. Saat itu perjalanan kami sedang bergerak menuju arah utara Sabang untuk melihat Tugu Nol Kilometer. Sebuah tugu penanda dimulainya wilayah negara ini. Tugu yang berada di wilayah paling barat Indonesia.

Ketika tiba di lokasi, aku melihat sebuah tugu berdiri belasan meter menjulang berdiri kokoh di pinggir tebing. Satu persatu kulangkahkan kaki menaiki anak tangga menuju puncak. Sesampainya di atas, aku terkesima dengan pemandangan hamparan birunya air yang membentang luas. Terlena dengan tiupan angin laut yang sejuk seakan membelai wajahku dengan lembut.

Lalu perhatianku teralih pada sebuah marmer yang berada di tengah tugu ini. Marmer tersebut bertuliskan pengesahan tempat ini sebagai Tugu Nol Kilometer Indonesia.

Melupakan Mantan

Tulisan itu berusia lebih dari 30 tahun, tapi kondisinya masih cukup jelas dan gampang dibaca. Huruf-huruf yang tercetak di permukaan batu itu seolah abadi. Lalu aku pun berfikir, hati bukanlah sebuah marmer kan? Terus kenapa harus susah untuk melupakan, bahkan kamu jadi susah untuk melangkah maju, Astri?

Baca juga: Cerita Cinta: Bung Tomo, Cinta Bersemi Di Medan Perang

Move on itu memang gampang untuk diucapkan, tetapi untuk melakukannya sangat susah. Aku teringat kembali dengan perkataan Pak Ahmad, kalau aku harus belajar mengikhlaskan. ya, mungkin sebenarnya aku yang masih belum ikhlas. Aku masih belum ikhlas untuk melepaskannya. Ikhlas untuk melupakan kenangannya. Ikhlas untuk melihatnya bahagia bersama orang lain.

Cukup lama diriku mematung hanyut dengan pemikiranku sendiri. Hingga saat ku memandang sekeliling hanya tersisa diriku seorang berdiri di depan tugu tersebut. Aku pun menguatkan hati dan tekad untuk mengikhlaskan Dennis pergi dari memoriku, pergi dari hatiku dan dari semua aspek kehidupanku.

Ibarat sebuah tugu besar yang menjadi penanda dimulainya negara yang besar ini, ini harus menjadi awal dimulainya lembaran baru hidupku. Ini menjadi awal untuk memulai sebuah cerita yang baru. Awal yang harus meyakinkan untuk melangkah tanpa ragu.

Aku pun mengeluarkan barang-barang yang berhubungan dengan mantan dari tasku. Ada scratchbook mengenai hari-hari kami, buku diary tentang perasaanku selama menjalani hari dengannya, album foto dan dua boneka kecil darinya. Aku membuang benda-benda tersebut di tempat sampah di sekitar Tugu.

Aku pun mengeluarkan handphone, dan menghapus segala foto yang berhubungan dengannya di galeri dan semua sosial mediaku. Untuk terakhir kalinya, ku pandangi nomor telfon yang masih tersimpan di handphoneku dan ku beranikan diri untuk menghapus nomornya.

Sejenak setelah melakukan itu semua, ada rasa lega luar biasa yang datang menghampiriku. Rasanya hatiku menjadi sangat ringan . Aku pun yakin, kalau waktu akan menyembukanku. Aku pun pergi meninggalkan tempat itu dan segala kenangan yang ada bersamanya.

Baca juga:Kisah Nyata Cerita Cinta Bukti Kisah Cinta Sejati

Summer – Foto: Dok. Batasnegeri. com. Dok. Unsplash.