Ini adalah art of war dalam dunia pernikahan.

Menilik Sun Tzu, seorang filsuf dan ahli strategi perang, pernikahan tidak ubahnya seperti sebuah seni dalam berperang dimana istri atau suami harus berdansa untuk menemukan keseimbangan dalam sebuah pernikahan. Ini adalah kunci utama dalam pernikahan.

Salah satu potensi konflik dalam pernikahan adalah hubungan antara istri dan mama, kedua orang yang pastinya moveoners sangat cintai. Sayangnya dalam hal ini kita harus memilih di pihak mana kita berada, apakah di pihak istri atau di pihak mama ? Jika dipikirkan dengan matang ini adalah pilihan yang sulit, di satu sisi kita punya mama yang telah melahirkan dan membesarkan kita dengan susah payah sampai bisa mencapai keadaan kita sekarang ini. Di sisi lain, istri ada seseorang yang kita temukan dengan susah payah dan berjanji bahwa kita akan selalu bersama walau bagaimanapun keadaannya, di suka dan duka, di keadaan sulit atau mudah, saat-saat tubuh masih six pack atau sudah melebar ke kiri dan ke kanan. Hmmm…dua sisi mata uang yang harus dipilih dengan baik.

Well, kalau moveoners bertanya pada Lupain Mantan, di pihak mana kita harus berada, jawabannya adalah di pihak istri kita. Bingung dengan jawabannya ini ? Kita diskusikan satu per satu : Pertama waktu kita menikah dengan pasangan kita yang sah, artinya kita adalah sebuah entitas baru, sebuah keluarga yang berdaulat yang berhak menentukan aturan yang berlaku dalam keluarga ini. Seperti sebuah keluarga yang berdaulat, campur tangan dari pihak lain tentu saja artinya menggangu kedaulatan dari sebuah keluarga dan seperti sebuah negara yang berdaulat, kita berhak untuk menegakkan kedaulatan, dalam hal ini sesuai aturan yang disetujui oleh pasangan dalam keluarga ini. Pertanyaannya adalah apakah seekstrim ini ? Apakah tidak boleh ada campur tangan orang tua, atau mama dalam keluarga kita ? Jawabannya, tentu saja boleh, tetapi dalam kapasitas atau hal-hal tertentu yang sudah didiskusikan bersama dengan pasangan. Cukup jelas ? Atau ada pertanyaan ?

Nagh Lupain Mantan menjelaskan sedikit bagaimana polanya, contohnya apakah moveoners sudah berdiskusi dengan pasangan bagaimana pola mengasuh anak, apakah mama boleh ikut campur ? Mungkin juga dalam hal pengaturan keuangan, apakah moveoners sudah berdiskusi berapa biaya yang harus dialokasian untuk mama ? Atau juga mengenai pemilihan tempat tinggal, kehidupan sehari-hari atau hal yang berkaitan dengan keluarga dari pasangan moveoners ?

Pemikiran terakhir adalah, walaupun kita harus selalu berada di pihak istri atau pasangan moveoners dan telah membuat keluarga yang berdaulat dengan berbagai aturan yang telah disetujui bersama yang pasti moveoners harus tetap respek dan menghargai mama kalian. Bagaimanapun juga tanpa mama, moveoners tidak akan sampai pada keadaan sekarang ini. Jadi kuncinya hargai mama dan papa, tetapi cintailah istri dan pasangan moveoners….karena cinta akan mengubahkan segalanya. Hwaiting and Spread the Love

Foto oleh Andrea Piacquadio dari Pexels